free hit counters
 

Berpuasa Setiap Hari Ketika Adanya Ancaman, Mudharat dan Kemiskinan, Boleh?

[email protected]

Ustadz, ana ingin tanyakan…
Bolehkah puasa sunah setiap hari?

Misal dalam kondisi kekhawatiran adanya ancaman “makanan” mudharat dalam tahanan/penjara  atau pun dalam kondisi keterbatasan materi yang untuk makan normal setiap hari teramat berat?
Adakah contoh dari Rasulullah atau sahabat yang melakukannya? Mhn jawabannya Ustadz di eramuslim.

Hendi, Balikpapan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saudara Hendi di Balikpapan yang dimuliakan Allah Subhaana Wa Ta’ala.

Ibadah puasa adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai Allah Subhaana Wa Ta’ala, karena di dalamnya terdapat banyak sekali pelajaran yang bisa diambil daripadanya, disebutkan juga di salah satu hadis qudsi :

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR Bukhari)

Adapun, jikalau membahas ibadah, pastinya didalamnya terdapat had-had atau aturan-aturan dan batasan tertentu, begitu juga dengan puasa ini, seperti yang tercantum dalam hadis nabi :

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَلَا تَزِدْ عَلَيْهِ قُلْتُ وَمَا كَانَ صِيَامُ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ نِصْفَ الدَّهْرِ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ بَعْدَ مَا كَبِرَ يَا لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Dalam hadits yang panjang diatas, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar bahwa ada sahabatnya yang berpuasa pada setiap harinya, dan qiyamul di sepanjang malam.

Maka Rasulullah berkata kepadanya untuk tidak melakukan itu, beliau kemudian melanjutkan, “Berpuasalah dan berbukalah! Dirikanlah sholat dan tidurlah! Karena sesungguhnya tubuhmu memiliki hak, dan hartamu memiliki hak, dan pasanganmu memiliki hak.”.

Kemudian Rasulullah menyarankan sahabat ini untuk puasa 3 hari di tiap bulannya, yakni Puasa Ayyamul Bidh. Sahabat ini membalas, “Aku sanggup lebih dari itu.”.

Rasulullah kemudian berkata lagi,

“Puasalah kamu Puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam (selang-seling) dan jangan kamu melampaui itu.” (HR Bukhari)

Di hadits atas, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa dalam ibadah puasa Sunnah ini, Puasa Daud lah yang menjadi batasan terakhir, jadi tidak ada lagi nash-nash syar’i lainnya yang menjelaskan tentang puasa yang lebih banyak daripada ini.

Puasa Daud ini pun memiliki keutamaan yang sangat besar, yang mana ia adalah salah satu puasa yang sangat dicintai Allah Subhaana Wa Ta’ala, seperti yang disebutkan pada hadis dibawah:

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

 

“Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari no. 1131)

Melihat kasus dalam pertanyaan saudara Hendi tadi, untuk kasus pertama,  bila saja ada kekhawatiran ancaman terhadap makanan mudharat dari Penjara, itu kejahatan HAM luar biasa bila terjadi. Tapi perlu diperjelas disini, tentunya tidak bisa dikatakan secara umum semua pihak pengelola lembaga kemasyarakatan punya kebijakan jahat memberikan makanan yang terpapar kemudharatan kepada salah seorang tahanannya.

Untuk menghindari ancaman makanan yang mudharat atau makanan yang syubhat tersebut , mungkin bisa disiasati cara mendapatkan supplai  makanan tersebut,  yang bersangkutan dapat meminta kesediaan pihak keluarga atau sahabat atau  pihak yang dipercaya untuk  mengirimkan setiap harinya ke lembaga permasyarakatan . Tapi bila LP (lembaga Pemasyarakatan) berada  di luar negeri , dimana negara tersebut tidak mengindahkan halal atau haramnya makanan, dan tidak ada pihak keluarga di kota atau negara tersebut , maka solusinya insyaAllah bertawakallah kepada Allah, konsumsi sekedarnya tanpa berlebih, dan tambahkan dengan perbanyak amalan berpuasa, yang tentunya puasa tidak dilakukan setiap harinya.

Bila sudah dilakukan semua ikhtiarnya, sekali lagi  bertawakallah kepada Allah SWT,  mudharat apapun tidak akan tertimpa kecuali atas izin Allah SWT.

Dan untuk  kasus kedua, dalam keterbatasan materi, bila itu terjadi ,  banyak banyak berdoa kepada Allah SWT agar dilepaskan dari lilitan kesulitan sgera mungkin. Bila dalam kondisi kesulitan demikian , tanpa menjadikan diri dan keluarga meminta minta kepada pihak lain, maka bisa disiasati pengaturan seketat mungkin ,  minimal bujet yang ada , belilah sembako-sembako yang harganya tidak terlalu tinggi agar tidak terjadi kekurangan makanan yang mengakibatkan berpuasa terus menerus. Minimal berpuasa bisa dilakukan selang seling hari, karena tubuh ini ada haknya untuk memberikan enerji untuk beramal dan beribadah.   Maka jikalau puasa diniatkan dengan Puasa Daud insyaAllah bisa terselesaikan masalahnya , smoga sgera diberikan solusi dari Allah dan tentunya meraih ganjaran puasa khusus dari Allah SWT.



Wallahu A’lam Bisshowwab

Ust Zidni TD Muhammad, Al Hafidz,  at Yarmouk University Yordania

Pertanyaan selanjutnya silahkan kirim ke email dibawah ini,  insyaAllah akan diupayakan dijawab.

[email protected]

Ustadz Menjawab Terbaru