free hit counters
 

Nusantara Dalam Catatan Geografer Muslim

Eramuslim.com -Ada banyak sekali Geografer Muslim sejak abad ke 9-16 M yang telah berlayar ke Nusantara. Berikut ini salah satu tulisan Geografer Muslim abad ke-9 M, yang bernama lengkap Abu Zaid al Hasan bin Yazid as Sirafi.

Beliau berlayar tahun 850 M. Pelayarannya dari Basrah, Teluk Persia, India, Nusantara hingga ke Kanton (Guangzhou, China). Kemudian dituliskan kembali oleh Sulaiman at-tajir dalam catatan Rihlah As-Sirafi. Di hlm 66-68, tertulis demikian:

Kemudian kita mulai mendeskripsikan kota Zabij. Kota Zabij ini berbatasan dengan negeri Cina. Jarak antara keduanya sejauh satu bulan perjalanan atau kurang jika angin bertiup kencang.

Rajanya digelari Maharaja. Taksirnya kira-kira Sembilan ratus farsakh. Raja ini berkuasa atas banyak sekali pulau. Luas seluruh kerajaannya itu kira-kira seribu farsakh atau lebih.

Di kerajaannya itu ada sebuah pulau yang dikenal sebagai Pulau Sarirah, taksirnya kira-kira empat ratus farsakh. Juga pulau yang dikenal sebagai Pulau Rami, taksirnya delapan ratus farsakh.

Mungkin gambar peta

Di pulau ini tumbuh buqur, kamper dan lain-lain. Di kerajaannya juga terdapat Pulau Kalah. Pulau ini terletak tepat di tengah-tengah antara Cina dan negeri Arab. Taksirnya kira-kira delapan puluh farsakh.

Di Kalah ini banyak terdapat komoditas seperti kemenyan (Arab), Kamper, Cendana, kayu jati, timah putih, kayu hitam, buqur, segala macam rempah-rempah, dan masih banyak komoditas lain yang tidak bisa disebutkan di sini karena banyak sekali.

Pada masa ini, kapal-kapal Oman hilir mudik bolak-balik berlayar ke Kalah ini. Maharaja ditaati di penjuru pulau-pulau ini. Pulau yang menjadi tempat kediamannya itu amat subur dan pemukimannya teratur.

Orang yang bisa kita percaya menceritakan jika ada seekor ayam jago yang berkokok di waktu sahur, seperti ayam jago kita, maka akan bersahut-sahutan kokoknya hingga seratus farsakh lebih.

Hal itu lantaran pemukimannya saling bersambung dan berhubungan, tidak ada yang ditinggalkan dan tidak ada yang hancur.



Jika ada yang hendak bepergian, maka dia bisa berangkat kapan saja dan jika sudah Lelah maka ia bisa beristirahat di mana saja.

Catatan-catatan seperti ini banyak sekali, hanya saja tak mudah untuk menentukan akurasi zonasi wilayah yang dimaksud oleh sang penulis. Mengingat nama-nama wilayah telah banyak berubah. Perlu penelitian panjang untuk mengetahui secara akurat wilayah-wilayah tersebut.

Semoga kedepan bisa kita tuangkan menjadi buku geografi dalam catatan muslim.[GlobalReview]

Oleh: Abu Bakar Ibn Said, Peneliti Senior dari Sultanate Institute, dan Pemimpin Redaksi Islam Today. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Tahukah Anda Terbaru