free hit counters
 

Antara Dua Film

Heboh kecil di media akhir-akhir ini gara-gara sepotong karya anak manusia. Syahdan ada sebuah film untuk anak muda yang dibuat juga oleh anak muda. Berkisah tentang pergaulan bebas yang kebablasan, konon membawa pesan moral agar anak muda jangan (sembarangan) freesex. Itu dia masalahnya. Pesan moralnya sendiri menyampaikan bahwa boleh sex bebas asal dengan pasangan setia. Artinya oke kumpul kebo, asal jangan dengan banyak orang.
Inilah pesan moral yang sebenarnya, yaitu: freesex boleh asal……
Sebagian komentator berkilah bahwa ini pesan moral yang penting karena (konon menurut mereka) freesex sudah parah di Indonesia, oleh karena itu pesan moral yang ini menjadi penting.
Lalu ada sebagian lagi yang berkilah bahwa film itu tak sesuai “moral bangsa”.
Belum lagi yang cuap-cuap seputar kebebasan berekspresi sebagaimana yang di suarakan para penentang UUAP (Undang-Undang Anti Pornografi). Seru deh. Makin rame aja.
Jika semua tokoh di negeri ini di tanya, pasti akan ada lebih beragam lagi pendapat.
Para pemain maupun pembuat film tampaknya memang telah punya sistem nilai mereka sendiri, dan mereka berusaha membuat tata moral mereka diusung pula oleh publik penonton Indonesia yang masih amat beragam. Akan semakin sulit jika kita mau berdebat soal apakah benar aroma pergaulan anak muda Indonesia sudah sangat parah sehingga pesan moral di atas memang perlu seperti itu? Apa tolok ukur “parah” atau “tidak parah”? Lagi-lagi nilai nisbi. Tergantung siapa yang mau angkat bicara.
Silang pendapat tak akan pernah selesai jika terus bermain di skala moral yang nisbi dan skala tingkat keparahan yang bisa dipermainkan statistiknya. Lalu ke mana nilai moral yang tidak nisbi?
Ada juga sudut tinjau yang belum terdengar diangkat, yaitu soal kemungkinan film ini menjadi bahan inspirasi anak muda yang semula belum mengarah ke sex bebas, namun karena dicontohkan, kemudian jadi ingin meniru. Soal sebuah tontonan kemudian menjadi bahan insprasi masyarakat, dapat kita lihat dalam pemperitaan kriminal. Sejak sekian tahun tahun lalu disiarkan berita pembunuhan mutilasi (korban dipotong-potong), sampai saat ini semakin banyak berita seperti itu muncul. Demikian juga dengan berbagai tindak kejahatan lain. Jangan tanya lagi berapa banyak kasus perkosaan terhadap anak di bawah umur yang disebabkan pelakunya terangsang adegan seronok di televisi. Kiranya para mbak-mbak dan mas-mas ganteng dan cantik yang memprakarsai film tersebut menyadari bahwa penonton kita perlu dilindungi dari godaan-godaan yang tak sanggup mereka tahan.
Publik kita memang bukan publik yang cerdas, harus kita akui demikian adanya. Terbukti, tayangan-tayangan yang ratingnya tinggi adalah tayangan-tayangan yang tidak cerdas. Semakin menjadi-jadi dengan mewabahnya segala macam “idol” (baca aidol), semakin jelaslah arah dunia hiburan kita semakin mengacu pada nilai-nilai nisbi yang dangkal. Kepopuleran, keseronokan, keberanian buka-bukaan, sudah semakin menggantikan nilai-nilai estetika film dan hiburan lain di negeri ini. Jika seseorang bisa jadi headline infogosip, maka ia akan semakin dicari publik. Tak peduli suaranya atau aktingnya tak bermutu, jika ia berani tampil serba terbuka, maka larislah dia. Apa benar demikian?
Beberapa waktu sebelum ini, dunia perfilman juga agak heboh dengan meledaknya penonton sebuah film religius. Ada juga pro kontranya, namun nuansanya amat berbeda. Sebagian penonton yang sudah pernah baca bukunya mengaku kecewa dengan filmnya, karena banyak yang diubah. Tapi bagi yang sebagian lagi, khususnya yang belum pernah membaca bukunya, mengaku sangat terkesan dengan film ini. Koq bisa?
Koq bisa sebuah film religius memecahkan kebekuan perfilman bangsa ini yang seolah sudah pingsan beberapa tahun? Padahal jika dilihat isinya, film yang laris tersebut sangat jauh dari nilai-nilai sex bebas yang diusung film pertama. Kalau tidak bisa dikatakan bahkan bertentangan dengan nilai sex bebas. Bukankah ini menunjukkan bahwa selama ini yang menjadi tolok ukur selera penonton ternyata belum terwakili oleh produksi kebanyakan sineas kita?
Ini memang negeri yang bebas, bukan negeri yang sudah mendeklarasikan sebuah nilai agama tertentu sebagai acuannya. Tapi bagi kebanyakan kita tentunya tetap bisa melihat bahwa kebanyakan masyarakat kita masih punya selera akan film-film bermoral tinimbang film-film yang bablas moral. Jadi? Mengapa masih dianggap perlu untuk membuat film seperti itu? Mungkin mbak-mbak dan mas-mas cantik dan ganteng yang membuat film-film bablas ingin mengiklankan gaya hidup mereka sendiri? Atau sebenarnya ada “sponsor” lain? Wallahua’lam.
Konon masuknya film-film bablas dan konten-konten multimedia di negeri ini merupakan hasil jual beli politik dan hukum dagang. Kalau sudah masuk, siapa pula yang mau repot-repot menangkalnya, malah banyak juga politikus ikut-ikutan menikmati suasana kebablasan ini. Mumpung. Mumpung ada, mumpung gak ketauan, mumpung bisa dapat keuntungan dari itu. Pantas kalau situs-situs mesum juga menjamur dari negeri ini dan konon dinikmati di mancanegara.
Jelas bahwa ada 2 arus di negeri ini yang saling “bertarung” di pentas rakyat. Satu arus mengajak nilai-nilai yang biasa dianut bangsa ini yaitu moral anti kebablasan pergaulan, dan satu lagi mengajak ke budaya kebablasan.
Wahai negeriku, ke mana semangat kebangsaan yang dulu memerdekaan negeri ini dengan teriakan “Allahu Akbar”? Ke mana Ulama yang berani teriak menyuarakan kebenaran dengan lantang, bukan dengan malu-malu? Ke mana pula para pemimpin yang kuat dan bermoral yang mampu membela kepentingan rakyatnya sendiri tanpa takut sangsi dunia? Jangan tanya ke mana para politisi bermoral yang memperjuangkan kelurusan moral rakyat, mereka sedang reses, atau sedang studi banding ke luarnegeri, atau….maaf, sedang sibuk jadi kandidat dalam pilkada.
Ke mana pula semangat yang katanya “kebangkitan nasional”? Mungkin gara-gara negeri ini salah mengambil sejarah ya? Konon lembaga yang kini dijadikan ikon kebangkitan nasional justru pro penjajah Belanda. Pantas…Kita memang belum menjadi pembelajar sejarah yang benar. Oleh karena itu kita belum bisa mengambil jalan yang benar. Laa Haula Walaa Quwwata Illa BiLlaah…..Tiada daya dan kekuatan Hanyalah dari Allah. (san)

Benteng Terakhir Terbaru