free hit counters
 

Ketika Muhammad Al Fatih Ajarkan Sains Kepada Dracula

Redaksi – Jumat, 22 Oktober 2021 09:13 WIB

“Iblis”

Berdasarkan Elizabeth Miller dalam buku Dracula: Sense and Nonsense, kebiasaannya yang sadis dengan menancapkan lawannya ke tiang tersebut menjadi faktor utama Vlad III mendapat julukan Vlad the Impaler alias Vlad Si Penusuk.

“Setelah Mehmed II [Muhammad al-Fatih] yang menaklukkan Konstantinopel menginvasi Wallachia pada 1462, dia sebenarnya mampu pergi ke seluruh penjuru ibu kota daerah itu, Targoviste, namun ternyata sepi,” kata Curta.

“Dan di depan ibu kota itu, Mehmed II menemukan mayat dari tahanan Ottoman yang diambil Vlad. Semuanya tertusuk tiang pancang,” lanjutnya.

Tak lama setelah aksi Vlad III menancapkan prajurit Ottoman ke tiang panjang tersebut pada Agustus 1462, ia tak kuasa melawan kekuatan Mehmet II yang jauh lebih besar. Ia pun terpaksa melarikan diri ke Hungaria. Di sana, ia dipenjara selama beberapa tahun, menikah, dan punya anak.

Vlad III pun kembali pulang kampung dan berusaha mengembalikan takhta. Ia berhasil, namun hanya sebentar. Suatu kali, pertempuran dengan Ottoman pecah dan Vlad III terbunuh di dalamnya. Sementara itu saudara Vlad, Radu yang memihak Ottoman, ditunjuk untuk memimpin Wallachia. Ketika Radu meninggal dunia pada 1475 dan digantikan oleh sejumlah tokoh lainnya, Vlad III diminta oleh para bangsawan di sana kembali memimpin Wallachia.

Atas segala kebengisan dan cerita horor yang menempel pada sosok Vlad III, ia kerap dijuluki sebagai Vlad Dracula.

A shop vendor shows a Dracula doll in a souvenirs shop 26 July 2003, on the second day of the Medieval Art Festival in Sighisoara, some 300 km from Bucharest. Thousands of people came to the medieval fortress of Sighisoara for a three-day cultural event which gathers craftsmen, musicians and theater performers. AFP PHOTO DANIEL MIHAILESCU (Photo by DANIEL MIHAILESCU / AFP)Kata “Dracula” atau “Draculea” dalam bahasa Rumania Kuno yang disematkan kepadanya dapat bermakna ganda. (AFP/DANIEL MIHAILESCU)

Kata “Dracula” atau “Draculea” dalam bahasa Rumania Kuno yang disematkan kepadanya dapat bermakna ganda. Makna pertama memang merujuk pada statusnya sebagai anak laki-laki dari Vlad Dracul.



Akan tetapi pada makna kedua yang mengacu bahasa Rumania modern, kata “drac” juga bisa diartikan sebagai “iblis” selain dari “naga” yang digunakan dalam “Dracul” untuk Vlad II.

Makna “iblis” ditambah dengan folklor soal Vlad III yang sadis itulah yang kemudian mendasari penggambaran sosok drakula sebagai makhluk penguasa kegelapan dalam buku Bram Stoker.

Bram Stoker sendiri menggambarkan Count Dracula dalam novelnya banyak menggunakan kemampuan supernatural yang diyakini diperoleh dengan bersekutu dengan iblis.

“Dalam bahasa Wallachia, ‘dracula’ berarti setan,” tulis Stoker dalam catatan kecilnya. (cnn)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3Lihat semua

History Terbaru