free hit counters
 

Asal Usul Sebutan Daerah “Rawa Bangke”

Redaksi – Senin, 22 Rabiul Akhir 1443 H / 29 November 2021 04:26 WIB

Eramuslim.com – Jakarta, sebelum menjadi kota metropolitan seperti saat ini merupakan kampung besar. Jika melihat Jakarta tempo dulu, hutan dan rawa masih terbentang. Kini, itu semua berganti hutan beton dengan bangunan tinggi berjajar-jajar. Namun, nama-nama daerah itu hingga kini masih dipakai. Sayangnya, sedikit warga Jakarta yang mengetahui latar belakang di balik nama itu. Di Jakarta Timur, misalnya, di sana ada daerah bernama Rawa Bunga atau biasa dikenal dengan sebutan Rawa Bening. Masyarakat lebih mengenal daerah itu sebagai pusat penjualan batu akik. Ternyata, nama Rawa Bunga sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Di masa penjajahan Belanda, daerah itu dikenal dengan nama Rawa Bangke. Ahli Sejarah Jakarta, Alwi Shahab, menjelaskan kata rawa bangke (bangkai) dipakai lantaran saat itu rawa-rawa di sekitar Jatinegara menjadi tempat pembuangan mayat serdadu Inggris. Dikisahkan Alwi, perseteruan antara Kerajaan Inggris dan Kekaisaran Prancis pada 1800-an menjalar ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Pada saat itu, tentara Inggris merasa terancam oleh bersatunya Belanda-Prancis seusai tergulingnya Raja Louise oleh Napoleon.

Karena itu, terjadilah pertempuran sengit di Matraman, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Rawa Bangke. “Pada 1813, terjadi pertempuran antara tentara Inggris dan tentara Prancis di Matraman, tentara Inggris banyak yang tewas, lalu di buang ke rawa-rawa di daerah Jatinegara depan stasiun. Sejak saat itu, disebut Rawa Bangke karena banyak bangkai. Kalau orang Betawi logatnya bangke” kata Alwi.

Pada pertempuran itu, jelas Alwi, tentara Prancis masuk ke Jatinegara lewat rawa-rawa. Tentara Inggris salah perhitungan dan terdesak dengan serangan Prancis. “Di Pal Meriam (Matraman)itu dulu Inggris bangun meriam-meriam di Matraman karena dipikir Inggris lewat Ancol. Ternyata Prancis lewat rawa di Jatinegara dan Inggris terdesak, kemudian banyak yang tewas,” jelas Alwi.

Pada saat itu, pertempuran juga terjadi di terowongan Taman Wilhelmina di area Masjid Istiqlal yang terhubung ke Benteng Berland di daerah Matraman. “Istiqlal kan dulu Benteng Belanda. Ada terowongan yang terhubung ke Berland Matraman” ujar Alwi.



Rawa Bangke kemudian dikenal hingga 1980-an. Seiring dengan berjalannya waktu, Rawa Bangke diubah menjadi Rawa Bunga. Dikatakan Alwi, perubahan itu disebabkan masyarakat sekitar merasa risih dengan sebutan bangke.Konotasi negatif bangke diubah menjadi harum (bunga).

Hal senada dikatakan Yunus Mukri, tokoh masyarakat Rawa Bunga. Yunus mengatakan Rawa Bangke sangat dikenal dengan tempat berkumpulnya ulama di sebuah Surau yang kini menjadi Masjid Jami Al-Anwar yang sudah berdiri sejak 1859. “Dulu di masjid ini (Masjid Jami Al-Anwar) ada ulama besar. Guru Baqir Marzuki yang dikenal dengan Datuk Biru,” kata pria berumur 75 tahun itu.

Menurut Yunus, masyarakat Betawi Rawa Bunga sangat moderat dan bertoleransi tinggi. Selain Masjid Jami Al-Anwar, di sana juga ada Kelenteng Bio Shia Djin Kong yang dibangun Tung Djie Wie, tabib Tionghoa yang hijrah ke Indonesia. Rumah ibadah itu sudah berdiri lebih dari 70 tahun.

Selain itu, ada nama Hek Kramat Jati yang juga memiliki kisah khas. Wilayah Hek dikenal dengan pertigaan di Jalan Raya Bogor menuju Kramat Jati dan Pondok Gede. Hek, ungkap Alwi, diambil dari istilah Belanda yang berarti pagar. Di kawasan Hek pada era kolonial, terdapat sebuah pagar dengan bentuk runcing yang terbuat dari kayu bulat. “Pagar itu digunakan sebagai jalan keluar masuk kompleks peternakan sapi. Kawasan itu dulunya dikenal hasil peternakan, susu sapi segar untuk konsumsi orang-orang Belanda,” jelasnya. (MI)

History Terbaru