free hit counters
 

Ramai-Ramai Menyayangkan Arteria Dahlan yang Singgung Bahasa Sunda

Redaksi – Rabu, 14 Jumadil Akhir 1443 H / 19 Januari 2022 10:46 WIB

Eramuslim.com – Pernyataan politikus PDIP Arteria Dahlan yang meminta Kajati memakai bahasa Sunda dicopot menuai kecaman. Dari mulai Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil hingga budayawan menyayangkan pernyataan itu. Ridwan Kamil secara khusus bahkan meminta Arteria untuk meminta maaf.

“Jadi saya mengimbau Pak Arteria Dahlan sebaiknya meminta maaf ya kepada masyarakat Sunda di nusantara ini, tapi kalau tidak dilakukan pasti akan bereskalasi karena sebenarnya orang Sunda itu pemaaf ya, jadi saya berharap itu dilakukan,” ujar Ridwan Kamil dalam siaran persnya Selasa (18/1/2022).

Menurut Emil, ada dua jenis masyarakat dalam melihat perbedaan. Pertama, ada yang melihat perbedaan itu sebagai kekayaan atau sebagai rahmat. Ia berharap mayoritas warga melihat perbedaan dengan cara ini. Kelompok kedua, katanya, ada yang melihat perbedaan sebagai sumber kebencian dan itu yang harus dilawan.

“Jadi saya menyesalkan statement dari Pak Arteria Dahlan terkait masalah bahasa ya, yang ada ratusan tahun atau ribuan tahun, menjadi kekayaan nusantara ini,” katanya.

Emil mengatakan jika Arteria tidak nyaman dengan penggunaan bahasa Sunda, tinggal disampaikan secara sederhana. Tapi kalau bentuknya meminta untuk diberhentikan jabatan, menurutnya terlalu berlebihan.



Pengamat budaya dan juga dosen di Departemen Pendidikan Bahasa Sunda dan Prodi Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Chye Retty Isnendes menilai pernyataan Arteria bisa menyinggung orang Sunda.

Sebenarnya, kata ia, untuk menganalisis masalah ini memang membutuhkan data dan konteks yang jelas. Pertama, secara bernegara hal itu sudah menyimpang dari Undang-undang Dasar 1945, tentang bahasa Pasal 32. Dalam pasal itu sebut pada ayat satu bahwa negara menjamin berbudaya di antaranya. “Yang kedua (ayat dua) negara menghormati menggunakan bahasa daerah dan nanti ada penjelasannya di situ, bahwa bahasa-bahasa yang dipakai, dihormati dan dijunjung itu tanggung jawab pemerintah,” kata dia ketika berbincang dengan Republika.co.id, Selasa (18/1/2022).

Ia juga mengingatkan, bahasa daerah dan bahasa Indonesia tidak dapat dipisahkan dalam komunikasi masyarakat. “Yang kedua, dalam tatanan nasional, kita kan bukan eka bahasawan, kita itu sudah dwi bahasawan, bahwa bahasa Indonesia dan daerah seperti keping uang yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

 

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Berita Nasional Terbaru