free hit counters
 

Pencerahan Geopolitik Kisah Ashbabul Kahfi

Redaksi – Sabtu, 19 Jumadil Awwal 1443 H / 25 Desember 2021 10:30 WIB

Eramuslim.com – Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI) beberapa waktu lalu melakukan Umroh ke tanah suci. Sesudah hajatan utamanya tuntas, Abu Bakar yang saat ini bergiat dalam bisnis mainan anak-anak dan peminat geopolitik, memanfaatkan sisa waktunya melakukan perjalanan ke beberapa kota di Timur Tengah, termasuk daerah pendudukan pasukan Israel di Palestina. Berikut adalah bagian kedua  dari rangkaian artikelnya berupa analisis maupun renungan pribadinya dalam bentuk catatan perjalanan. Khusus untuk the Global Review.

 ***

Sebelum memasuki Negara Palestina, kami sempat singgah di kota Amman Yordania. Di Negeri Yordania kami menyempatkan diri untuk berkunjung di Gua Ashabul Kahfi. Yakni gua kecil dekat kota Amman yang dahulu diyakini pernah dihuni sebagai tempat bermukimnya sejumlah pemuda yang tertidur dalam gua selama 300 tahun ditambah sembilan tahun.

Selain di Yordania terdapat pula gua Ashabul Kahfi di Negara Turki yang juga diyakini pula sebagai tempat tertidurnya para pemuda tersebut, namun diantara gua tersebut, gua yang terdapat di Negara Yordania ini adalah yang paling mendekati kemiripan dengan ciri-ciri yang termaktub dalam Al Qur’an. Yakni terdapat celah dimana matahari masuk pada pagi dan sore hari seperti yang tersebut dalam Al Qur’an.

Seperti halnya kisah-kisah lain dalam Al-Qur’an yang penuh hikmah. Kisah Ashabul Kahfi ini menyimpan banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari tertidurnya sejumlah pemuda dalam gua yang diabadikan dalam kitab suci Al Quran di surah Al Kahfi ini. Berikut ini kami tuliskan sebagian dari ayatnya versi terjemahan Al Qur’an:

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS.Al-Kahfi:25-26).

Kisah Ashabul kahfi ini memiliki pencerahan Geopolitik yang sangat mendalam. Diceritakan dalam Al Qur’an bahwa koin mata uang yang dibawa oleh para pemuda yang tertidur dalam gua itu tidak berlaku lagi ketika mereka terbangun dari tidurnya yang panjang, hal ini seolah Allah SWT sedang mengingatkan para penguasa bahwa kekuasaan tidak akan bertahan lama, bahkan hanya berumur sekejaban tidurnya para pemuda.

Dan sebaliknya justru para pemuda yang teguh pada keimanan itulah yang lebih abadi dibandingkan kekuasan yang telah sirna tanpa bekas ketika para pemuda itu terbangun dari tidur panjangnya.

Kisah ashabul Kahfi ini erat kaitannya dengan sikap para pemuda yang kritis pada masanya kepada penguasanya yang dzalim di masa pemerintahan Raja Diqyanus yang dzalim.

Dikisahkan bahwa para pemuda beserta satu ekor anjingnya itu melarikan diri untuk mempertahan keislaman dan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala dari kejaran penguasa Raja Diqyanus yang memerintah secara dzalim dan tidak mengakui adanya Allah Yang Maha Sempurna.

Para pemuda Ashabul Kahfi ini memilih untuk mengasingkan diri serta bersembunyi dalam sebuah gua. Pada saat mereka beristirahat di dalam gua itulah, Allah SWT menidurkan para pemuda dan seekor anjing nya tersebut selama 300 tahun lebih 9 tahun.

Dalam Al Qur’an surat Al Kahfi diceritakan secara mendetil bagaimana Allah SWT membolik-balikkan tubuh mereka dari kanan ke kiri dan Allah SWT lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit, condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri selama mereka tertidur panjang itu.

Kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an yang menyimpan banyak pelajaran berharga ini mengingatkan para penguasa bahwa Idealnya Negara bukan hadir sebagai penguasa yang kejam dan dzalim bagi rakyatnya sebagai mana pemerintahan Raja Diqyanus tersebut.

Sebuah bangsa akan mengalami puncak peradaban tertinggi manakala Negara hadir sebagai pembimbing dan penasehat bagi rakyatnya sendiri, bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi sang rakyat belaka. Karena dari sanalah muara ketenteraman dan kenyamanan rakyat itu hadir.

Rakyat jelata hanya ingin hidup tenang dapat melaksanakan ibadah sucinya yang dilindungi oleh negara. Namun ketika Negara tak mampu membimbing  nasib rakyatnya sendiri, maka secara otomatis rakyat dipaksa untuk menentukan nasibnya sendiri. Disinilah letak geopolitik itu hadir.

Menurut Ratzel, geopolitik itu ilmu negara (science of the state). Mengutip istilah M Pranoto (pengamat geopolitik) Pembangunan merupakan program negara dan pemerintah, namun ketika pembangunan itu diselenggarakan dengan bermodus gusur sana – gusur sini tanpa melihat faktor geopolitik, maka hal ini justru kontra produktif dengan kepentingan rakyat itu sendiri, alias keluar dari pakem geopolitik, bahkan menjauh dari kepentingan dan cita-cita rakyat. Apalagi demi dan atau berdalih pembangunan sampai menjual aset-aset negara ke swasta asing. Ini sungguh rancu (M Arif Pranoto)

Akibat dari pembangunan yang tidak berbasis geopolitik, justru hanya akan mendudukkan rakyatnya menjadi tamu di negerinya sendiri. Absentee of Lord. Tuan tanah yang tidak berpijak diatas tanahnya sendiri. Tanah air, tetapi airnya harus beli dan tanahnya dimiliki orang lain.

Hari ini telah terjadi dua kutub kepentingan yang berlawanan arah antara penguasa dan rakyatnya sendiri. Para penguasa sibuk dengan agenda lima tahunan yang memaksa mereka harus melancarkan propaganda bahwa mereka telah berbuat yang terbaik versi penguasa.

Sedangkan rakyat jelata hanya berharap bisa hidup tenang dan dapat melaksanakan ibadah sucinya yang dilindungi dan dibimbing oleh negara. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah pembangunan yang bukan berbasis pada kepentingan rakyat namun berbasis pada kepentingan perolehan suara kembali di periode lima tahun berikutnya.

Maka ketika Negara tak mampu hadir sebagai pembimbing bagi jutaan nasib rakyatnya sendiri, secara otomatis rakyat dipaksa untuk menentukan nasibnya sendiri. Dan sayangnya, inilah fenomena yang terjadi hari ini.

Bila dalam kisah Ashabul Kahfi terdahulu rakyat dipaksakan secara konvensional melalui kekuatan militer langsung yang memaksa dengan senjata dan mengancam orang yang tak menurutinya akan dihukum mati, seperti yang telah di alami oleh sejumlah pemuda yang melarikan diri dari ancaman tersebut dan akhirnya diselamatkan oleh Allah SWT dengan tertidur di dalam gua selama 300 tahun lebih 9 tahun.

Tetapi kita hari ini kita bukan diancam secara langsung melainkan kita disuguhi berita berisi “agenda propaganda” target hasil kerja lima tahunan yang di beritakan secara sistemik dalam kehidupan sehari-hari.

Metode dan teknik memanipulasi kebohongan secara sistemik melalui teknik propaganda pun hari ini juga telah dikuasai, sehingga bila kita kurang jeli memahami hal ini maka kita akan mudah terjebak oleh agenda propaganda yang menyesatkan.

Oleh karena itu kita harus belajar sendiri agar kita mampu mendefinisikan dengan jelas mana yang baik buat diri kita dan mana yang buruk bagi diri kita sendiri tanpa adanya bimbingan dan arahan dari pemerintah. Dari mulai urusan pendidikan, kesehatan hingga urusan ekonomi yang kian menghimpit kehidupan.

Siapapun penguasanya akan selalu disibukan dengan agenda meraih suara kembali untuk periode lima tahunan dengan cara menjejalkan “kebaikan” versi propaganda demi meraih kembali dukungan suara mayoritas dalam pemilu, sehingga mau tidak mau rakyat jelata harus mampu menentukan nasibnya sendiri hanya untuk sesuap nasi.

Ketika kita terjebak dalam premis mayoritas maka bisa dipastikan kita akan mudah hanyut menjadi korban agenda propaganda kepentingan tertentu yang bukan berbasis pada kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin inilah yang dimaksud dengan fitnah Dajjal.

Kisah Ashabul Kahfi ini memberi wacana bagi kita agar memahami kondisi geopolitik dimana tempat kita hidup, agar kita. mampu bertahan ditengah arus gelombang agenda propaganda yang dapat menyesatkan Aqidah kita. Karena kita hidup di dunia ini kelak akan ada pertanggung jawaban di hari penghisapan amal kita.

Gua Kahfi yang dibangun kembali oleh Salahuddin Al Ayyubi ini dalam surat Al Kahfi erat kaitannya dengan fitnah akhir zaman, oleh karena itulah bagi Umat Islam di sunnahkan membaca 10 ayat pertama atau 10 ayat terakhir dari surah Al Kahfi ini setiap hari Jumat untuk melindungi diri dari fitnah dajjal.

Fitnah Dajjal digambarkan dalam sebuah Hadits dimana kondisi itu kita tak mampu lagi mengenali baik dan buruk karena saking dahsyatnya fitnah yang merebak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau semua suka saya beritahu perihal Dajjal, yaitu yang belum pernah diberitahukan oleh seorang Nabipun kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya ia datang dengan sesuatu sebagai perumpamaan syurga dan neraka. Maka yang ia katakan bahwa itu adalah syurga, sebenarnya adalah neraka.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadits ini mengisyaratkan kepada kita bahwa akan datang waktunya dimana kita tak mampu lagi membedakan mana jalan yang baik yang bisa membawa kita ke surga dan mana jalan buruk yang bisa mengantar kita ke neraka.

Standard baik dan buruk bukan lagi ditentukan dengan kriteria kitab suci, tetapi standar mayoritas sebagai acuan standard baik dan buruk. Sedangkan suara mayoritas pun telah di manipulasi sedemikian rupa hingga yang tersisa hanyalah berita manipulasi kebohongan atau hoax.

Berita yang kita terima bukan lagi berita kebenaran akan tetapi seringkali berisi agenda propaganda yang telah menyebar secara sistemik dalam kehidupan sehari-hari bagaikan fitnah yang telah menjalar dalam benak-benak masyarakat namun kita tak mampu mengenali bahwa berita yang kita santab itu adalah sebuah fitnah atau agenda terselubung.

Demikianlah gambaran yang kami tangkap dari hadits tentang kondisi fitnah akhir zaman tersebut.

Semoga kami tak salah mengartikan makna dari hadits tersebut, kalau salah mengartikan makna Hadits tersebut maka datangnya dari penulis yang masih awam ini.



Tentunya Allah SWT lebih mengetahui tentang makna membaca surah Al Kahfi ini setiap hari Jumat bagi Umat Islam.

Allahu a’lam bissowab..

Ya Robb, lindungi kami dari propaganda yang dihembuskan untuk membutakan mata hati kami, agar kami bisa memandang yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk.[]

Sumber: The Global Review

Laporan Khusus Terbaru