free hit counters
 

Fiddini Jilbab, Pasar Pertama di Penjara, Kini Diminati Banyak Negara

Adityanugroho – Senin, 28 Rabiul Akhir 1432 H / 4 April 2011 16:40 WIB

Sukses dari usaha identitas keislaman, kenapa tidak? Itulah filosofi yang dipegang oleh Izzah dalam mengembangkan usaha jilbab bordir khas Lamongan, Jawa Timur. Meski pertama kali dipasarkan di penjara, kini Fiddini Jilbab diminati oleh berbagai kalangan, bahkan hingga mancanegara.

Berbisnis Karena Kepepet

The Power of Kepepet dirasakan betul oleh Izzah yang bernama lengkap Arruhul Izzati. Saat menginjakkan kaki di Jakarta pada 2002 untuk menuntut ilmu di STAIN Nahdhatul Ulama, Izzah benar-benar merasakan begitu sulitnya hidup di kota besar.

Meski menetap dan bekerja paruh waktu di tempat pamannya yang juga pengusaha busana muslim, Amatullah, Izzah tak pernah ingin menggantungkan hidup kepada orang lain. Setelah 6 bulan di Jakarta, Izzah kembali ke kampungnya di Lamongan untuk sejenak menikmati liburan semester.

Saat itulah ada kenalannya yang menawarkan untuk berjualan jilbab bordir yang sedang tren di kampung. Izzah pun kembali ke Jakarta dengan modal beberapa jilbab bordir khas Lamongan untuk dipasarkan. Beberapa karyawan pamannya didekati untuk turut memasarkan jilbab bordir tersebut di luar jam kerja mereka.

Salah satu dari mereka mempunyai kakak yang bekerja di penjara di bilangan Jakarta Barat. Jilbab bordir itu pun sampai di kalangan para pegawai rumah tahanan tersebut dan mendapat respon yang cukup baik.

Dari situ, kepercayaan diri Izzah untuk meluaskan bisnis pun semakin kuat. Apalagi, orang tuanya juga menitipkan adik perempuan Izzah yang bernama Fiddini untuk tinggal bersama di Jakarta yang membuatnya semakin terpacu untuk memperkuat finansial.

Tiga tahun kemudian, Izzah memutuskan untuk mandiri dan tidak lagi menjadi karyawan di tempat pamannya. Izzah dan Fiddini terus mengembangkan usaha mereka hingga mendapat kepercayaan dari sebuah distributor perlengkapan muslim besar saat itu, Fatahillah.

Selama beberapa tahun, Fatahillah menjadi pelanggan tetap Fiddini Jilbab hingga menjelang 2008 saat industri kaset dan CD lesu dan Fatahillah terkena imbas krisis tersebut.

Beruntung, saat itu Fiddini Jilbab sudah menggandeng distributor lain, yakni Raihan, yang hingga kini masih bekerja sama dengan Fiddini Jilbab.

Antara Bisnis dan Kuliah

Izzah sempat mengalami kegalauan saat harus meninggalkan studinya yang tinggal menyisakan 2 matakuliah lagi di semester tujuh. Namun, keadaan yang sulit untuk bertahan hidup di Jakarta berdua dengan sang adik membuat Izzah harus meninggalkan bangku kuliah untuk sementara waktu. Saat itu, bisnis jilbab bordirnya sudah mulai mapan. Apalagi, sang ayah juga turut membantu dengan memperluas wilayah pemasaran di daerah Tangerang.

Usaha Izzah secara perlahan tapi pasti mulai membuahkan hasil. Meski mengaku tak pernah melakukan promosi, hanya mengandalkan kekuatan word of mouth, Izzah mulai kebanjiran order dari beberapa daerah, seperti Bekasi, Serang, bahkan Bintan.

Melihat perkembangan bisnis yang signifikan, Izzah mulai memproduksi sendiri jilbab bordirnya dengan mempekerjakan beberapa pengrajin di kampungnya. Dari hanya hitungan jari, kini jumlah karyawan yang dipekerjakan Izzah sudah mencapai 30-an orang.

Bisnis jilbab bordir ini pun menjadi bisnis keluarga karena sang ibu juga turut andil dalam mengelola dan memantau produksi, terutama karena produksi jilbab bordir Fiddini dilakukan di Lamongan.

Pada 2010, Izzah berhasil menuntaskan studinya dan terus mengembangkan bisnisnya yang kini beromset puluhan juta rupiah per bulan. Sementara sang adik juga tak mau kalah dengan melakukan diversifikasi produk dan membuat gerai busana muslim sendiri.

Menjaga Brand, Idealisme, dan Go International

Izzah tak menyangka, usaha jilbab bordirnya dapat bertahan hingga kini. Pada awal 2011 atau bertepatan dengan 1 Muharram 1432 Hijriyah, Izzah meluncurkan situs Fiddini Jilbab dan memanfaatkan jejaring sosial Facebook untuk menjaring para konsumen yang aktif di dunia maya.

Langkah itu terbukti efektif, permintaan melonjak, pasar meluas, bahkan beberapa demand berasal dari luar negeri. Lonjakan permintaan itu membuat Izzah menggenjot produksi hingga mencapai seribu jilbab dalam sebulan.

Keunggulan Fiddini Jilbab adalah bordirannya yang membingkai persis di tepi jilbab segi empat. Berbeda dengan bordir dari komputer yang tak bisa mencapai tepi jilbab dan biasanya kurang kuat hasil bordirnya, Fiddini jilbab diproduksi dengan mesin bordir biasa yang mampu mencapai tepi jilbab dan biasanya lebih kuat dan tahan lama.

Selain itu, motif yang beragam tapi tak pasaran juga menjadi daya tarik Fiddini Jilbab. Diakui oleh Izzah, setiap pekerja Fiddini Jilbab mengerjakan jilbab bordirnya sepenuh hati dengan fokus dan keahlian pada motif tertentu.

Setiap pekerja bahkan hanya mampu menghasilkan 2-3 jilbab dengan motif sama pada setiap bulannya. Bahan yang digunakan pun sangat bervariasi, sebut saja velvet, double hicon, satin, baby serena, dll. Oleh karena itu, meski diproduksi massal, Fiddini Jilbab tetap unik dan berciri khas.

Hal itu pula yang membuat pengrajin di beberapa sentra bordir seperti Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Jawa Tengah mulai melirik bordir khas Lamongan tersebut. Tak heran, dengan effort pekerja dan kualitas bordir sedemikian rupa, rasanya sepadan jika Fiddini Jilbab dibandrol dengan harga berkisar Rp40 ribu hingga Rp75 ribu.

Ciri khas itu pula yang dipertahankan oleh Izzah dan mempengaruhi strategi pemasaran yang dilakukannya. Meski baru merintis sistem keagenan, Izzah tak pernah membatasi para pelanggannya dengan minimum pembelian tertentu. Namun demikian, dalam hal suplai ke beberapa toko terkemuka, Izzah memilih untuk berkonsinyasi demi menjaga brand Fiddini Jilbab.



Kini, Izzah dapat sedikit berbangga karena salah satu angan-angannya saat kecil untuk mempunyai jilbab banyak kini sudah terpenuhi.

Kegigihannya untuk hidup mandiri yang dipupuknya sedari kecil saat jualan gorengan sampai berbisnis jilbab sekarang mulai menunjukkan hasil. Bagi Izzah, ketekunan adalah kata kunci yang tak bisa tidak dilakukan oleh para pengusaha dalam berbisnis.

Sekarang, Izzah dibantu sang suami berencana mematenkan Fiddini Jilbab sebagai bisnis yang lebih serius dan legal dengan mengurus NPWP dan merintis bentuk usaha seperti CV.

Dari situ, langkah untuk go international dengan bisnis identitas keislaman dapat lebih terbuka lebar. Anda yang tertarik dengan produk-produk Fiddini Jilbab dapat mengakses situs www.fiddinijilbab.com. (ind)

Info Bisnis Terbaru